Banci



Saya menekan tombol remote berkali-kali. Tiba-tiba saya merasa mual. Banci lagi. Banci lagi. Dengan dandanan menor dan jenggot atau kumis masih terlihat jelas. Astaghfirullah. Saya matikan saja TV itu.
Fenomena dunia hiburan televisi terasa semakin gak karuan. Mau jadi apa negeri ini jika tontonan bermodalkan bancilah yang diutamakan? Saya heran banget sama pekerja kreatif pertelevisian. Apa mereka gak bisa bikin cerita lucu tanpa ada banci?
Coba deh, yang pernah nonton sitkom Bajaj Bajuri dan OB (Office Boy), apa di sana ada bancinya? Sepanjang episode yang saya tonton kayaknya gak ada deh. Tapi tetep lucu. Atau sinetron Kiamat Sudah Dekat 3 yang sedang tayang sekarang. Apa ada bancinya? Saya gak pernah lihat tuh. Dan semoga saja gak bakal muncul. Masih tetap lucu dan menghibur, kan?

Anugerah


“Lagi ngomongin apa sih?” tiba-tiba saja ia muncul dan melontarkan pertanyaan itu. Saat itu saya dan beberapa rekan sedang makan siang, sewaktu break syuting AWI.

“Cerita wayang,” jawab saya pendek. Ternyata dia tahu tentang itu. Percakapan pun berlanjut.

Lalu saya bertanya, “Gatotkaca siapanya Parikesit?”

Ia menjawab, “Kayaknya gak mungkin anaknya Gatotkaca, deh. Kan keburu mati.” Gubrak! Saya kecewa. Soalnya saya berharap Parikesit itu anak atau cucunya Gatotkaca. Soalnya saya sudah sesumbar pada orang-orang kalau Parikesit itu cucunya Gatotkaca.

Saya kembali bertanya, “Gatotkaca anaknya Bima bukan, sih?” saya masih penasaran dan percakapan tentang kisah Mahabarata pun berlanjut.

Kira-kira seperti itu pertemuan pertama saya dengan dia. Waktu saya menanyakan namanya, dia menjawab, “Nanu.”

Hah? Nama macam apa itu? Apa saya gak salah dengar?

“Nanu?” saya spontan mengucapkan namanya dengan nada heran.

Seperti mengetahui keheranan saya, dia menjelaskan, “Itu nama panggilan. Nama saya sebenarnya Anugerah.”

Ooooh... Saya pikir orangtuanya sengaja memberi nama Nanu. Saya kan jadi penasaran asal muasal nama Nanu kalau memang demikian adanya. Mungkin saja ada artinya, kan?

Saya jadi ingat teman saya Agah. Namanya juga sama Anugerah. Saya jadi berpikir, jangan-jangan semua orang yang bernama Anugerah tidak dipanggil dengan nama itu dan memiliki nama panggilan tersendiri. :P

Mungkin Anugerah lebih bagus buat nama usaha. Di dekat tempat tinggal saya di Cimahi, ada banyak tempat berlabel Anugerah (dengan ejaan anugerah, ataupun anugrah) Mulai dari Warnet Anugerah, Wartel Anugerah, Kantin Anugerah, Warung Anugerah, angkot Anugrah, cireng Anugrah sampai Klinik Pengobatan Anugerah Jaga 24 jam.

Busyet.. Mungkin saya harus buka usaha baru nih... WC VIP Anugerah.***

NSP 1212

Adikku satu-satunya tiba-tiba datang menghampiriku dan bertanya, “Mbak, brosur NSP 1212 ditaro di mana?”
Aku terdiam. Berpikir. Otakku memproses runtutan kejadian perihal brosur tersebut. Begitu aku sampai di akhir untaian proses, aku segera teringat bahwa brosur itu kutaruh di ruang kerjaku. Di atas meja komputer. Aku segera memberitahu adikku.
Ia segera pergi tanpa tedeng aling-aling. Tak lama kemudian ia kembali sambil cemberut, “Gak ada!” katanya.

KAMPANYE NASIONAL “ANAK MUDA INDONESIA: JANGAN BUGIL DI DEPAN KAMERA!”


Mencermati kasus peredaran film porno amatir yang dibuat dengan berbagai peralatan kamera dan Handphone setahun belakangan ini, kami dari komunitas Video Film Mania, TV Lab Communications dan Komunitas Penulis Tangguh menggelar kampanye via internet berjudul

“ANAK MUDA INDONESIA : JANGAN BUGIL DIDEPAN KAMERA!”

Tunas Anggrek


Tunas bunga anggrek. Pada awalnya saya agak tidak percaya. Kejam sekali bunga itu dikurung dalam botol! Hehe. Foto ini saya ambil di salah-satu rumah kebun petani anggrek di daerah Cihideung, Lembang.***

Rapat, Fotokopi, dan Jalan Sempit

“Sebenarnya budget kita berapa sih?” aku bertanya pada Tini saat rapat divisi IC (Infokom) berlangsung di Ruang HIMA-MBTI. Saat itu ada Kak Fat, Tika, Tini, Fitri, dan aku sendiri sebagai Tim IC yang sedang merencanakan debut majalah kampus.
“Adalah. Cukup kalo mau bikin majalah berwarna,” ujar Tini.


“Terus, bikinnya gimana? Mau dicetak atau...”


“Nah, itu dia masalah saat ini. Beberapa hari terakhir ini udah keliling kota Bandung, nyari percetakan yang mau nyetak di bawah lima ratus eksemplar. Gak ada yang mau. Kalaupun mau, harganya mahal banget.”


Aku menjentikkan jariku penuh semangat, “Aku ada ide!”