“Lagi ngomongin apa sih?” tiba-tiba saja ia muncul dan melontarkan pertanyaan itu. Saat itu saya dan beberapa rekan sedang makan siang, sewaktu break syuting AWI.
“Cerita wayang,” jawab saya pendek. Ternyata dia tahu tentang itu. Percakapan pun berlanjut.
Lalu saya bertanya, “Gatotkaca siapanya Parikesit?”
Ia menjawab, “Kayaknya gak mungkin anaknya Gatotkaca, deh. Kan keburu mati.” Gubrak! Saya kecewa. Soalnya saya berharap Parikesit itu anak atau cucunya Gatotkaca. Soalnya saya sudah sesumbar pada orang-orang kalau Parikesit itu cucunya Gatotkaca.
Saya kembali bertanya, “Gatotkaca anaknya Bima bukan, sih?” saya masih penasaran dan percakapan tentang kisah Mahabarata pun berlanjut.
Kira-kira seperti itu pertemuan pertama saya dengan dia. Waktu saya menanyakan namanya, dia menjawab, “Nanu.”
Hah? Nama macam apa itu? Apa saya gak salah dengar?
“Nanu?” saya spontan mengucapkan namanya dengan nada heran.
Seperti mengetahui keheranan saya, dia menjelaskan, “Itu nama panggilan. Nama saya sebenarnya Anugerah.”
Ooooh... Saya pikir orangtuanya sengaja memberi nama Nanu. Saya kan jadi penasaran asal muasal nama Nanu kalau memang demikian adanya. Mungkin saja ada artinya, kan?
Saya jadi ingat teman saya Agah. Namanya juga sama Anugerah. Saya jadi berpikir, jangan-jangan semua orang yang bernama Anugerah tidak dipanggil dengan nama itu dan memiliki nama panggilan tersendiri. :P
Mungkin Anugerah lebih bagus buat nama usaha. Di dekat tempat tinggal saya di Cimahi, ada banyak tempat berlabel Anugerah (dengan ejaan anugerah, ataupun anugrah) Mulai dari Warnet Anugerah, Wartel Anugerah, Kantin Anugerah, Warung Anugerah, angkot Anugrah, cireng Anugrah sampai Klinik Pengobatan Anugerah Jaga 24 jam.
Busyet.. Mungkin saya harus buka usaha baru nih... WC VIP Anugerah.***